Deskripsi teks

ini adalah diariku, catatan kehidupanku. aku merasa tenang setelah menuliskan keluh kesah dan harapanku. atau mungkin sesuatu yang baru saja kualami dan temui, semua tertuang disini.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Mengarungi Kerasnya Kehidupan



Kehidupan ini memang penuh dengan pertanyaan yang harus kita jawab. Terkadang pertanyaan yang kita lontarkan tertuju pada diri kita sendiri. Namun walaupun mengetahui jawabannya seringkali kita bingung. Dalam mengarungi kerasnya dunia ini maka antara kesempatan dan hambatan sering kita temukan. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh J.Sidlow baxter yang mengatakan bahwa “selalu ada kesempatan disetiap hambatan dan selalu ada hambatan disetiap kesempatan”. Hal ini pernah saya alami sendiri ketika tugas kuliah sedang menumpuk dan harus diselesaikan secara bersamaan dihari yang sama dengan tugas yang berbeda dan banyak. Pada saat menemukan kesulitan itu ternyata anggapan yang mengatakan tugas ini tidak bisa selsesai itu salah. Dan al hasil semua tugas yang telah menumpuk itu akhirnya dapat terselesaikan semuanya. Karena pada saat hambatan itu mendekat yaitu dalam bentuk tugas, maka kesempatanpun terselip disana dalam bentuk kesungguhan dalam menyelesaikan tugas itu.

Dalam hidup juga sering kali kita melakukan sesuatu tanpa menganalisa terlebih dahulu. Kita cenderung mengikuti orang lain, cendrung ingin seperti orang lain ketika orang itu terlihat lebih dari kita. Contohnya saja pada waktu lampau ada kebiasaan mengunyah makanan sebanyak 32 kali. Kebiasaan ini dibawa oleh seorang yang bernama Horace Pletcher (1849-1919 M) dia mempunyai motto “Nature will castigate those who don’t masticate” yang artinya adalah “Alam akan menghukum siapa saja yang tidak cukup mengunyah”. Kemudian pendapat pletcher ini di ikuti oleh
banyak orang . pengikut aliran ini disebut dengna pletcherisme. Alasan mereka mengikutinya sangat sederhana yaitu hanya dengan berpikir bahwa jumlah gigi orang dewasa sebanyak 32 maka masuk akal kalau kita mengunyah makanan sebanyak 32 kali agar kita menjadi sehat. Namun taukah anda apa yang sebenarnya ?. menerut para ahli dimasa kini mereka telah bersepakat bahwa mengunyah sebanyak 32 kali itu samasekali tidak memberikan manfaat secara medis !. inilah budaya mengikut-ikuti kebiasaan orang lain yang sampai saat ini masih ada yang punya kebisaan mengikuti orang lain, padahal semua kebiasaan itu tidak semuanya benar melainkan harus dibuktikan dulu secara teoritis dan juga praktis.

Pemaksaan kehendak untuk mencapai kesuksesan. Ya, itu memang bagus. Namun ketika kita sudah tau bahwa potensi kita pada bidang tertentu maka dalami bidang itu dan kita akan menikmatinya. Ketika bidang yang sudah kita kuasai itu kita buang dan sia-siakan begitu saja lantas mengejar bidang yang lain yang lebih bergengsi namun kita tidak menyukainya dan tidak mendalaminya, maka sia-sia kita mengejarnya. Abraham Maslow mengatakan “seorang musisi harus menciptakan music. Seorang pelukis menggoreskan lukisannya. Seorang penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian pada diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka bisa jadi”.

Dibutuhkan strategi yang jitu untuk mengarungi kerasnya kehidupan ini. Salah satunya adalah dengan cara berpikir visioner. Artinya bahwa kita hrus memikirkan segala sesuatu itu kedepannya, bukan hanya saat ini tapi manfaatnya hari esok, lusa, dan seterusnya apa ?. ini yang perlu kita pertegas dalam diri kita dan sudah selayaknyalah kita mencontoh orang bijak. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Abdullah ibnu Mubarak bahwa “Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan sesuatu yang akan di kerjakan orang bodoh tiga hari kemudian”. Sangat tepat sekali bahwa dalam memikirkan strategi dalam menyelesaikan permasalahan di dunia ini, maka harus di pikirkan kedepannya. Minimal tiga hari kedepan kita sudah tau mau berbuat apa. Sehingga dapat dibedakan antara kita yang bijak dengan orang yang bodoh.

Hidup memang harus dijaga agar tetap dalam keadaan senang dan bahagia. Berbicara tentang kebahagiaan bahwa manusia akan bahagia ketika hubungannya dengna orang lain bagus yaitu saling memberi. Seperti apa yang telah diucapkan oleh J.Donald Walter adalah “kebahagiaan anda tumbuh dan berkembang manakala anda membantu orang lain. Namun, bilamana anda tidak mencoba membantu sesama maka kebahagiaan akan layu dan mongering. Kebahagiaan itu bagaikan tanaman; harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi”.

Setiap manusia pasti mempunyai naluri dan sifat dasar yang sama yaitu tidak pernah puas dengan apa yang telah didapatkan. Selalu ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari biasanya. Kadang itu yang membuat kita tersiksa. Tidak sedikit orang yang mempunyai banyak harta, banyak keinginannya tercapai tapi kebahagiaan tidak dia dapatkan dari semua itu. Dr. James Mantague mengatakan “saya tak pernah menjumpai seseorang yang menderita karena terlalu banyak bekerja. Lebih banyak orang menderita karena terlalu banyak ambisi tapi tak cukup berusaha”.
Usaha memang sangat diperlukan dalam menjawab segala macam tantangan hidup. Perjuangan yang tinggi, usaha keras dan keinginan yang besar untuk mencapai sebuah tujuan adalah tindakan yang pas dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Mungkin kita bisa belajar dari usaha seorang veteran perang dunia pertama Kolonel Sanders  yang tidak pernah menyerah menawarkan resep masakan keluarganya kepada lebih dari seribu orang yang dinilalinya dapat memberikan modal usaha untuk mendirikan restoran. Seribu orang itu menolaknya. Tapi dia tidak menyerah. Bayangkan, jika Kolonel Sanders berhenti pada penolakan yang ke 999, mungkin hari ini kita tidak mengenal Kentucky Fired Chicken. Itulah perjuangan yang tidak pernah menyerah dan punya pandangan yang visioner dalam mengambil keputusan. Pada perinsipnya tidak ada orang gagal, yang ada hanyalah orang yang “memutuskan untuk berhenti” sebelum mencapai sukses.

Kita diajarkan untuk tetap bergerak oleh Alam ini, maka tetaplah berkaria. Walaupun kita terdiam namun bumi ini mengajak kita bergerak mengelilingi matahari. Maka tidak ada alasan lagi untuk tidak bergerak. Bergeraklah dan berkaria sebisa mungkin. Sesuatu yang tidak bergerak akan cepat busuk. Kunci yang tidak pernah dibuka akan mudah serat. Mesin yang tak di nyalakan lebih gampang berkarat. Dan hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan di laci berdebu. Alam telah mengajarkan ini kepada kita. Jangan pernah berhenti berkaria atau kita akan segera menjadi tua dan tak berguna.

Antara prinsip dan kebiasaan yang dipengaruhi oleh lingkungan memang sangat sukar untuk di satukan. Sering kali kedua hal ini saling memisahkan diri satu sama lainnya. Misalkan lingkungan tempat kita tinggal banyak kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengna hati nurani kita sehingga menyiksa batin. Namun tak bisa dipungkiri kita juga akan mengikuti kebiasaan itu. Nah kata hati yang tidak sesuai itu adalah sebuah prinsip dan kebiasaan itu adalah arus yang memang mau tidak mau kita akan mengikutinya. Thomas Jefferson mengatakan “saat berbicara mode, berenanglah mengikuti arus. Saat berbicara prinsip, tegarlah seperti batu karang”. Ini membutuhkan profesionalisme yang tinggi dalam menyikapi lingkungan yang kita padukan dengna prinsip yang kuat seperti batu karang.

Ketidak percayaan diri dan rasa ragu dalam bertindak adalah salah satu penyebab kita gagal mencapai tujuan. Kita sering kali membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi dan cendrung membuat kita takut dalam bertindak. Kita sering takut gagal sebelum mencoba. George Bernard Show mengatakan “hidup dengan melakukan kesalahan akan tampak lebih terhormat daripada selalu benar karena tidak pernah melakukan apa-apa”. Benar saja, ketika kita terdiam tanpa melakukan apa-apa memang kita tidak ada masalah dengan orang lain, tidak pernah melakukan kesalahan dengan sesuatu apapaun. Namun adakah hasil dari terdiam itu ?, kita samasekali tidak menghasilkan apa-apa. Lebih baik berbuat kesalahan tapi menghasilkan sesuatu yang bermakna. Biala anda melakukan sesuatu, ada kemungkinan anda melakukan kesalahan. Bila anda melakukan kesalahan, itu artinya anda melakukan sesuatu yang hebat. Karena anda berkesempatan belajara sesuatu.

Dalam melakukan tindakan untuk menyelesaikan sebuah masalah, sering kali rasa bimbang itu datang menghampiri kita. Sekedar berandai-andai, kita takut dengan pengalaman kemarin dan takut juga dengan kejadian yang akan datang. Perasaan ini tidak bisa kita pungkiri, namun sebetulnya hal ini tidak perlu dibesar-besarkan. Sudahlah, tidak usah menakutkan masa lalu dan mencemaskan masa yang akan datang karena yang sebenarnya adalah saat inilah waktu kita berbuat. Bukan kemarin dan hari esok. Seperti yang dikatakan oleh James Thurber mengatakan “jangan lihat masa lampau dengna penyesalan. Jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan. Tapi lihatlah disekitarmu dengan penuh kesadaran”. Dengan berpikiran seperti itu maka kita akan mendapatkan sebuah kemenangan. Kemenangan bukanlah disaat kita mengalahkan lawan. Menjatuhkan musuh yang kuat. Namun kemenangan adalah saat dimana kita dapat melawan suatu kegagalan. Saat dimana kita dapat bangkit dari keterpurukan, bangkit dari keadaan yang menyedihkan. Saat dimana kita dapat mengatasi musibah. Itulah kemenangan yang sesungguhnya yang ada pada diri kita. Dan itu semua harus kita capai.

Secara tidak sadar kita ini adalah seorang pemimpin. Pemimpin bagi diri kita sendiri, pemimpin bagi orang lain. Otak kita pemimpin bagi anggota tubuh kita. Di kampus juga kita dikenalkan oleh dunia kepemimpinan. Mulai dari tataran kelas yaitu korti, kemudian di tingkat program studi (prodi) yaitu HMPS sampai di tataran eksekutif kampus yaitu badan eksekutif mahasiswa (BEM). Namun, dalam menjalankan tanggung jawab yang kita emban dalam menjadi pemimpin ini sering kali mengalami kemandegan (stagnasi) karena mungkin kita terlalu lamban mengambil keputusan atau mungkin tidak visioner. Atau bisa jadi kita mengetahui semua teori-teori kepemimpinan itu namun ada rasa takut dan rasa malu yang menghampiri kita sehingga semua teori itu terpinggirkan. Ya, bisa jadi. Leroy Eims mengatakan “seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain, melihat lebih jauh dari yang dilihat orang lain. Dan melihat sebelum orang lain melihat”. Dengan menjalankan apa yang dikatakan Leory Eims tadi maka stagnasi dalam kepemimpinan akan mampu diatasi. Namun, karena ada rasa takut dan juga rasa malu yang mengendap pada diri manusia, hal itu bisa jadi kita abaikan. Termasuk penulis sendiri. Dalam kehidupan ini terkadang kita menjadi pemimpin bagi orang lain dan terkadang kita yang dipimpin oleh orang lain. Pemimpin dan yang dipimpin ini adalah warna dari indahnya kehidupan ini. Dari sini akan timbul komplik yang membutuhkan strategi jitu untuk menyelesaikannya. Dibutuhkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang terpadu menjadi satu sehingga membentuk cara berpikir yang massif dalam menyelsaikan segala bentuk masalah.

Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita ingin menyenangkan semua orang dengan segala kemampuan yang ada. Dalam dunia kepemimpinanpun kita sering terpengaruh dengan prasaan kita sendiri karena begitu banyaknya masukan dari orang lain yang akan mempengaruhi kita, lantas kita terbawa oleh omongan semua orang yang berbeda itu. Maka dengan mengikuti semuanya itu bisa jadi kita tidak dapat satupun dari semua masukan itu. Seperti sebuah kisah dulu ada seorang laki-laki tua dengan anaknya berjalan membawa seekor keledai, tapi mereka tidak menaiki keledai itu dan di tengah perjalanannya beberapa orang melihat mereka dan menyengir, “lihatlah orang-orang dungu itu. Mengapa mereka tidak naik diatas keledai itu?”. Laki-laki itu mendengar mereka dan disuruhlah anaknya naik di punggung keledai. Tak lama kemudian mereka bertemu dengan perempuan tua dan berkata “sudah terbalik dunia ini!. Sungguh anak tak tau diri!. Dia tenang-tenang diatas keledai sedangkan ayahnya yang tua dibiarkan berjalan sendiri”. Kali ini anaknya turun dari keledai dan giliran ayahnya yang naik. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan gadis muda dan berkata “kenapa tidak kalian naik saja bersamaan diatas keledai?”. Benar saja, mereka menuruti nasehat gadis itu dan naik berdua diatas keledai. Tak lama kemudian sekelompok orang lewat, “binatang malang…. Ia menanggung beban dua orang gemuk tak berguna. Kadang memang orang bisa sangat kejam!”. Sampai disini ayah dan anak itu sudah muak. Mereka memutuskan untuk memanggul keledai itu. Melaihat kejadian itu, orang-orang tertawa terpingkal-pingkal, “lihatlah, manusia keledai memanggul keladi!” sorak mereka. Sungguh malang nasib orang ini. Semua jadi serba salah. Inilah, jika kita berusaha menyenangkan semua orang bisa jadi kita tidak dapat menyenangkan siapapun.

Hidup tidak perlu disesali ditakuti. Jangan sampai kita mengutuk diri kita sendiri dengan segala macam tantangan yang ada. Karean kegagalan itu sebetulnya tidak dipersembahkan untuk kita, tapi kitalah yang gagal dalam mengarungi kehidupan. William j. Siegel mengatakan “manusia tidak dirancang untuk gagal, tapi manusialah yang galgal untuk merancang”. Gagal adalah hal yang alamiah yang selalu ada pada manusia. Maka tetaplah bersemangat untuk memperbaikinya. Gagal merancang bukanlah kesalahan fatal dalam meracik strategi dalam menghadapi derasnya cobaan dan tantangan. Kegagalan itulah yang akan mengantarkan kita menjadi orang besar.

salam hangat dari saya : HABIB AZHARI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar