Kehidupan ini memang
penuh dengan pertanyaan yang harus kita jawab. Terkadang pertanyaan yang kita
lontarkan tertuju pada diri kita sendiri. Namun walaupun mengetahui jawabannya
seringkali kita bingung. Dalam mengarungi kerasnya dunia ini maka antara kesempatan
dan hambatan sering kita temukan. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh J.Sidlow baxter yang mengatakan bahwa
“selalu ada kesempatan disetiap hambatan dan selalu ada hambatan disetiap
kesempatan”. Hal ini pernah saya alami sendiri ketika tugas kuliah sedang
menumpuk dan harus diselesaikan secara bersamaan dihari yang sama dengan tugas
yang berbeda dan banyak. Pada saat menemukan kesulitan itu ternyata anggapan
yang mengatakan tugas ini tidak bisa selsesai itu salah. Dan al hasil semua
tugas yang telah menumpuk itu akhirnya dapat terselesaikan semuanya. Karena
pada saat hambatan itu mendekat yaitu dalam bentuk tugas, maka kesempatanpun
terselip disana dalam bentuk kesungguhan dalam menyelesaikan tugas itu.
Dalam hidup juga sering
kali kita melakukan sesuatu tanpa menganalisa terlebih dahulu. Kita cenderung
mengikuti orang lain, cendrung ingin seperti orang lain ketika orang itu
terlihat lebih dari kita. Contohnya saja pada waktu lampau ada kebiasaan
mengunyah makanan sebanyak 32 kali. Kebiasaan ini dibawa oleh seorang yang
bernama Horace Pletcher (1849-1919
M) dia mempunyai motto “Nature will castigate those who don’t masticate” yang
artinya adalah “Alam akan menghukum siapa saja yang tidak cukup mengunyah”.
Kemudian pendapat pletcher ini di ikuti oleh
banyak orang . pengikut aliran ini disebut dengna pletcherisme. Alasan mereka mengikutinya sangat sederhana yaitu hanya dengan berpikir bahwa jumlah gigi orang dewasa sebanyak 32 maka masuk akal kalau kita mengunyah makanan sebanyak 32 kali agar kita menjadi sehat. Namun taukah anda apa yang sebenarnya ?. menerut para ahli dimasa kini mereka telah bersepakat bahwa mengunyah sebanyak 32 kali itu samasekali tidak memberikan manfaat secara medis !. inilah budaya mengikut-ikuti kebiasaan orang lain yang sampai saat ini masih ada yang punya kebisaan mengikuti orang lain, padahal semua kebiasaan itu tidak semuanya benar melainkan harus dibuktikan dulu secara teoritis dan juga praktis.
banyak orang . pengikut aliran ini disebut dengna pletcherisme. Alasan mereka mengikutinya sangat sederhana yaitu hanya dengan berpikir bahwa jumlah gigi orang dewasa sebanyak 32 maka masuk akal kalau kita mengunyah makanan sebanyak 32 kali agar kita menjadi sehat. Namun taukah anda apa yang sebenarnya ?. menerut para ahli dimasa kini mereka telah bersepakat bahwa mengunyah sebanyak 32 kali itu samasekali tidak memberikan manfaat secara medis !. inilah budaya mengikut-ikuti kebiasaan orang lain yang sampai saat ini masih ada yang punya kebisaan mengikuti orang lain, padahal semua kebiasaan itu tidak semuanya benar melainkan harus dibuktikan dulu secara teoritis dan juga praktis.
Pemaksaan kehendak
untuk mencapai kesuksesan. Ya, itu memang bagus. Namun ketika kita sudah tau
bahwa potensi kita pada bidang tertentu maka dalami bidang itu dan kita akan
menikmatinya. Ketika bidang yang sudah kita kuasai itu kita buang dan
sia-siakan begitu saja lantas mengejar bidang yang lain yang lebih bergengsi
namun kita tidak menyukainya dan tidak mendalaminya, maka sia-sia kita
mengejarnya. Abraham Maslow mengatakan
“seorang musisi harus menciptakan music. Seorang pelukis menggoreskan
lukisannya. Seorang penyair harus menulis sajaknya. Mereka harus melakukannya
agar mencapai puncak kedamaian pada diri mereka sendiri. Seseorang harus
menjadi apa yang mereka bisa jadi”.
Dibutuhkan strategi
yang jitu untuk mengarungi kerasnya kehidupan ini. Salah satunya adalah dengan
cara berpikir visioner. Artinya bahwa kita hrus memikirkan segala sesuatu itu
kedepannya, bukan hanya saat ini tapi manfaatnya hari esok, lusa, dan
seterusnya apa ?. ini yang perlu kita pertegas dalam diri kita dan sudah
selayaknyalah kita mencontoh orang bijak. Seperti apa yang telah dikatakan oleh
Abdullah ibnu Mubarak bahwa “Orang
bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan sesuatu yang akan di kerjakan orang
bodoh tiga hari kemudian”. Sangat tepat sekali bahwa dalam memikirkan strategi
dalam menyelesaikan permasalahan di dunia ini, maka harus di pikirkan
kedepannya. Minimal tiga hari kedepan kita sudah tau mau berbuat apa. Sehingga
dapat dibedakan antara kita yang bijak dengan orang yang bodoh.
Hidup memang harus
dijaga agar tetap dalam keadaan senang dan bahagia. Berbicara tentang
kebahagiaan bahwa manusia akan bahagia ketika hubungannya dengna orang lain
bagus yaitu saling memberi. Seperti apa yang telah diucapkan oleh J.Donald Walter adalah “kebahagiaan
anda tumbuh dan berkembang manakala anda membantu orang lain. Namun, bilamana
anda tidak mencoba membantu sesama maka kebahagiaan akan layu dan mongering.
Kebahagiaan itu bagaikan tanaman; harus disirami setiap hari dengan sikap dan
tindakan memberi”.
Setiap manusia pasti
mempunyai naluri dan sifat dasar yang sama yaitu tidak pernah puas dengan apa
yang telah didapatkan. Selalu ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang
lebih dari biasanya. Kadang itu yang membuat kita tersiksa. Tidak sedikit orang
yang mempunyai banyak harta, banyak keinginannya tercapai tapi kebahagiaan
tidak dia dapatkan dari semua itu. Dr.
James Mantague mengatakan “saya tak pernah menjumpai seseorang yang
menderita karena terlalu banyak bekerja. Lebih banyak orang menderita karena
terlalu banyak ambisi tapi tak cukup berusaha”.
Usaha memang sangat
diperlukan dalam menjawab segala macam tantangan hidup. Perjuangan yang tinggi,
usaha keras dan keinginan yang besar untuk mencapai sebuah tujuan adalah
tindakan yang pas dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Mungkin kita bisa
belajar dari usaha seorang veteran perang dunia pertama Kolonel Sanders yang tidak
pernah menyerah menawarkan resep masakan keluarganya kepada lebih dari seribu
orang yang dinilalinya dapat memberikan modal usaha untuk mendirikan restoran.
Seribu orang itu menolaknya. Tapi dia tidak menyerah. Bayangkan, jika Kolonel
Sanders berhenti pada penolakan yang ke 999, mungkin hari ini kita tidak
mengenal Kentucky Fired Chicken. Itulah perjuangan yang tidak pernah menyerah
dan punya pandangan yang visioner dalam mengambil keputusan. Pada perinsipnya
tidak ada orang gagal, yang ada hanyalah orang yang “memutuskan untuk berhenti”
sebelum mencapai sukses.
Kita diajarkan untuk
tetap bergerak oleh Alam ini, maka tetaplah berkaria. Walaupun kita terdiam
namun bumi ini mengajak kita bergerak mengelilingi matahari. Maka tidak ada
alasan lagi untuk tidak bergerak. Bergeraklah dan berkaria sebisa mungkin.
Sesuatu yang tidak bergerak akan cepat busuk. Kunci yang tidak pernah dibuka
akan mudah serat. Mesin yang tak di nyalakan lebih gampang berkarat. Dan hanya
perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan di laci berdebu. Alam telah
mengajarkan ini kepada kita. Jangan pernah berhenti berkaria atau kita akan
segera menjadi tua dan tak berguna.
Antara prinsip dan
kebiasaan yang dipengaruhi oleh lingkungan memang sangat sukar untuk di
satukan. Sering kali kedua hal ini saling memisahkan diri satu sama lainnya.
Misalkan lingkungan tempat kita tinggal banyak kebiasaan buruk yang tidak
sesuai dengna hati nurani kita sehingga menyiksa batin. Namun tak bisa
dipungkiri kita juga akan mengikuti kebiasaan itu. Nah kata hati yang tidak
sesuai itu adalah sebuah prinsip dan kebiasaan itu adalah arus yang memang mau
tidak mau kita akan mengikutinya. Thomas
Jefferson mengatakan “saat berbicara mode, berenanglah mengikuti arus. Saat
berbicara prinsip, tegarlah seperti batu karang”. Ini membutuhkan
profesionalisme yang tinggi dalam menyikapi lingkungan yang kita padukan dengna
prinsip yang kuat seperti batu karang.
Ketidak percayaan diri
dan rasa ragu dalam bertindak adalah salah satu penyebab kita gagal mencapai
tujuan. Kita sering kali membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi dan
cendrung membuat kita takut dalam bertindak. Kita sering takut gagal sebelum
mencoba. George Bernard Show mengatakan
“hidup dengan melakukan kesalahan akan tampak lebih terhormat daripada selalu
benar karena tidak pernah melakukan apa-apa”. Benar saja, ketika kita terdiam
tanpa melakukan apa-apa memang kita tidak ada masalah dengan orang lain, tidak
pernah melakukan kesalahan dengan sesuatu apapaun. Namun adakah hasil dari
terdiam itu ?, kita samasekali tidak menghasilkan apa-apa. Lebih baik berbuat
kesalahan tapi menghasilkan sesuatu yang bermakna. Biala anda melakukan
sesuatu, ada kemungkinan anda melakukan kesalahan. Bila anda melakukan
kesalahan, itu artinya anda melakukan sesuatu yang hebat. Karena anda
berkesempatan belajara sesuatu.
Dalam melakukan
tindakan untuk menyelesaikan sebuah masalah, sering kali rasa bimbang itu
datang menghampiri kita. Sekedar berandai-andai, kita takut dengan pengalaman
kemarin dan takut juga dengan kejadian yang akan datang. Perasaan ini tidak
bisa kita pungkiri, namun sebetulnya hal ini tidak perlu dibesar-besarkan.
Sudahlah, tidak usah menakutkan masa lalu dan mencemaskan masa yang akan datang
karena yang sebenarnya adalah saat inilah waktu kita berbuat. Bukan kemarin dan
hari esok. Seperti yang dikatakan oleh James
Thurber mengatakan “jangan lihat masa lampau dengna penyesalan. Jangan pula
lihat masa depan dengan ketakutan. Tapi lihatlah disekitarmu dengan penuh
kesadaran”. Dengan berpikiran seperti itu maka kita akan mendapatkan sebuah
kemenangan. Kemenangan bukanlah disaat kita mengalahkan lawan. Menjatuhkan
musuh yang kuat. Namun kemenangan adalah saat dimana kita dapat melawan suatu kegagalan.
Saat dimana kita dapat bangkit dari keterpurukan, bangkit dari keadaan yang
menyedihkan. Saat dimana kita dapat mengatasi musibah. Itulah kemenangan yang
sesungguhnya yang ada pada diri kita. Dan itu semua harus kita capai.
Secara tidak sadar kita
ini adalah seorang pemimpin. Pemimpin bagi diri kita sendiri, pemimpin bagi
orang lain. Otak kita pemimpin bagi anggota tubuh kita. Di kampus juga kita
dikenalkan oleh dunia kepemimpinan. Mulai dari tataran kelas yaitu korti,
kemudian di tingkat program studi (prodi) yaitu HMPS sampai di tataran
eksekutif kampus yaitu badan eksekutif mahasiswa (BEM). Namun, dalam
menjalankan tanggung jawab yang kita emban dalam menjadi pemimpin ini sering
kali mengalami kemandegan (stagnasi) karena mungkin kita terlalu lamban
mengambil keputusan atau mungkin tidak visioner. Atau bisa jadi kita mengetahui
semua teori-teori kepemimpinan itu namun ada rasa takut dan rasa malu yang
menghampiri kita sehingga semua teori itu terpinggirkan. Ya, bisa jadi. Leroy Eims mengatakan “seorang pemimpin
adalah orang yang melihat lebih banyak dari pada yang dilihat orang lain,
melihat lebih jauh dari yang dilihat orang lain. Dan melihat sebelum orang lain
melihat”. Dengan menjalankan apa yang dikatakan Leory Eims tadi maka stagnasi
dalam kepemimpinan akan mampu diatasi. Namun, karena ada rasa takut dan juga
rasa malu yang mengendap pada diri manusia, hal itu bisa jadi kita abaikan.
Termasuk penulis sendiri. Dalam kehidupan ini terkadang kita menjadi pemimpin
bagi orang lain dan terkadang kita yang dipimpin oleh orang lain. Pemimpin dan
yang dipimpin ini adalah warna dari indahnya kehidupan ini. Dari sini akan
timbul komplik yang membutuhkan strategi jitu untuk menyelesaikannya.
Dibutuhkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang terpadu menjadi
satu sehingga membentuk cara berpikir yang massif dalam menyelsaikan segala
bentuk masalah.
Dalam kehidupan
sehari-hari terkadang kita ingin menyenangkan semua orang dengan segala
kemampuan yang ada. Dalam dunia kepemimpinanpun kita sering terpengaruh dengan
prasaan kita sendiri karena begitu banyaknya masukan dari orang lain yang akan
mempengaruhi kita, lantas kita terbawa oleh omongan semua orang yang berbeda
itu. Maka dengan mengikuti semuanya itu bisa jadi kita tidak dapat satupun dari
semua masukan itu. Seperti sebuah kisah dulu ada seorang laki-laki tua dengan
anaknya berjalan membawa seekor keledai, tapi mereka tidak menaiki keledai itu
dan di tengah perjalanannya beberapa orang melihat mereka dan menyengir,
“lihatlah orang-orang dungu itu. Mengapa mereka tidak naik diatas keledai
itu?”. Laki-laki itu mendengar mereka dan disuruhlah anaknya naik di punggung
keledai. Tak lama kemudian mereka bertemu dengan perempuan tua dan berkata
“sudah terbalik dunia ini!. Sungguh anak tak tau diri!. Dia tenang-tenang
diatas keledai sedangkan ayahnya yang tua dibiarkan berjalan sendiri”. Kali ini
anaknya turun dari keledai dan giliran ayahnya yang naik. Tak lama kemudian
mereka berpapasan dengan gadis muda dan berkata “kenapa tidak kalian naik saja
bersamaan diatas keledai?”. Benar saja, mereka menuruti nasehat gadis itu dan
naik berdua diatas keledai. Tak lama kemudian sekelompok orang lewat, “binatang
malang…. Ia menanggung beban dua orang gemuk tak berguna. Kadang memang orang
bisa sangat kejam!”. Sampai disini ayah dan anak itu sudah muak. Mereka
memutuskan untuk memanggul keledai itu. Melaihat kejadian itu, orang-orang
tertawa terpingkal-pingkal, “lihatlah, manusia keledai memanggul keladi!” sorak
mereka. Sungguh malang nasib orang ini. Semua jadi serba salah. Inilah, jika
kita berusaha menyenangkan semua orang bisa jadi kita tidak dapat menyenangkan
siapapun.
Hidup tidak perlu
disesali ditakuti. Jangan sampai kita mengutuk diri kita sendiri dengan segala
macam tantangan yang ada. Karean kegagalan itu sebetulnya tidak dipersembahkan
untuk kita, tapi kitalah yang gagal dalam mengarungi kehidupan. William j. Siegel mengatakan “manusia
tidak dirancang untuk gagal, tapi manusialah yang galgal untuk merancang”.
Gagal adalah hal yang alamiah yang selalu ada pada manusia. Maka tetaplah
bersemangat untuk memperbaikinya. Gagal merancang bukanlah kesalahan fatal
dalam meracik strategi dalam menghadapi derasnya cobaan dan tantangan.
Kegagalan itulah yang akan mengantarkan kita menjadi orang besar.
salam hangat dari saya : HABIB AZHARI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar